Deskripsi
Pasca jatuhnya rezim Soeharto di tahun 1998 di mana Indonesia masuk dalam era keterbukaan, sedikit demi sedikit subkultur metal diterima kalangan umum. Satu hal yang mencuri perhatian adalah munculnya suatu gelombang baru subkultur metal. Para kaum hawa mulai melebur dalam skena tersebut. Menariknya, bukan saja kalangan perempuan yang bermunculan dalam subkultur metal, namun juga partisipasi perempuan berhijab atau hijabers. Fenomena baru ini mencetuskan kontroversi karena penggabungan antara dua identitas yang saling bertolak belakang. Buku ini bertujuan memahami proses pembentukan, representasi dan implikasi identitas perempuan berhijab dalam subkultur metal.
"Terima kasih atas perilisan buku ini, semoga kedepannya bisa merubah sudut pandang masyarakat luas dan tidak ada diskriminasi terhadap kaum metalhead terutama hijabers. Jika dalam agama Islam hijab adalah kewajiban maka musik adalah media syiar." (Dikky Mochamad Dzulkarnaen (Okid) Gugat & Karinding Attack)
"Sangat bangga dan berterima kasih banyak dengan dirilisnya buku ini. Karena kami wanita berhijab dapat memberikan nilai plus untuk musik metal, membuktikan bahwa musik metal tidak selalu identik dengan hal-hal ekstrim. Pesan saya, untuk wanita metalhead, teruslah berkarya dan berkreatifitas. Tunjukan wanita juga mampu untuk totalitas dalam bermusik. Tentu saja di barengi attitude yang baik juga." (Silvina Elya Mayasari (Maya)."MORTALITY")



