Deskripsi
1. Feminisme dan Nasionalisme di Negara Dunia Ketiga
*Penulis: Kumari Jayawardena | Penerjemah: Balqis Nabila Zahra | 350 hlm | Rp120.000*
- Buku ini adalah terjemahan karya klasik Feminism and Nationalism in the Third World (Verso, 2016).
- Menjadi salah satu teks fundamental dalam sejarah feminisme Asia dan Timur Tengah.
- Jayawardena menekankan bahwa feminisme di Dunia Ketiga tidak sekadar meniru Barat, melainkan lahir dari perjuangan perempuan melawan kolonialisme dan patriarki.
- Studi kasus mencakup Mesir, Iran, Turki, India, Sri Lanka, Tiongkok, Jepang, Korea, Filipina, Vietnam, dan Indonesia.
- Buku ini menunjukkan bagaimana gerakan perempuan beririsan dengan nasionalisme, membentuk strategi politik dan sosial yang unik.
- Pengakuan internasional: memenangkan *Feminist Fortnight Award* di Inggris dan masuk daftar “20 Karya Klasik Feminis” versi Ms. Magazine.
3. Ketika Perempuan Milenial Melawan Pernikahan
*Penulis: Nabila B. Nayyirah | 115 hlm | Rp58.000*
- Membahas fenomena perempuan milenial Indonesia yang menolak menjadikan pernikahan sebagai kewajiban sosial atau agama.
- Pernikahan dipandang sebagai pilihan, bukan keharusan.
- Perempuan milenial lebih menekankan kemandirian finansial dan emosional, serta pengembangan karier.
- Buku ini menyoroti bagaimana norma tradisional dianggap usang, dan bagaimana perempuan mendefinisikan kebahagiaan serta kesuksesan secara mandiri.
- Menegaskan kedaulatan individu atas tubuh dan kehidupan pribadi sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan sosial.
3. Melawan Bahasa Patriarki
*Penulis: Ni Putu Sri Pratiwi | 100 hlm | Rp50.000*
- Menyoroti bias gender dalam bahasa sebagai medium komunikasi.
- Mengacu pada pemikiran Luce Irigaray, tokoh feminisme posmodern yang menekankan kritik terhadap bahasa dan teks.
- Bahasa dianggap tidak netral, melainkan sarat dengan struktur patriarki.
- Buku ini mengajak pembaca untuk menyadari ketidakadilan dalam bahasa dan mencari cara untuk membongkar bias tersebut.
- Fokus pada ranah teks dan komunikasi, berbeda dari feminisme klasik yang lebih menekankan politik atau ekonomi.
