Deskripsi
Rumah Kedua Ibu berisi 14 cerpen yang menyoroti kehidupan perempuan secara lebih subtil, tokoh perempuan digambarkan sebagai karakter yang tegar dan mandiri.
Lebih daripada itu, yang menarik, tokoh perempuan ditempatkan dalam situasi dan keadaan yang unik sehingga pembaca akan diajak memahami cara berpikir si tokoh, dan terhanyut dalam alur cerita.
"Yang menarik dari cerita-cerita Udiarti adalah yang dibangun dari imajinasi yang erotik, brutal, gelap dan ngilu dan masing-masing dikisahkan dengan lugas, tak dramatik, bahkan seakan-akan cuek. Mereka menerabas zona yang lazim dalam karya-karya penulis perempuan (faktor 'perempuan' di sini penting disebut, sebab memang dari sisi itu Udiarti berkisah), dengan tokoh pelacur kelas menengah yang dibujuk dengan puisi, perempuan dengan fantasi gila, gadis yang menyeret (mungkin kata ini hanya metafor) ibunya ke alam baka, penari kraton setengah baya yang bercinta tanpa harapan dengan pemuda umur 20 tahun, guru yang terpaksa membunuh murid kesayangannya sendiri" (Goenawan Mohamad, Sastrawan)
"Udiarti piawai bercerita melalui tokoh-tokohnya yang kuat, mengusik kita dengan realitas kehidupan, menelanjangi sisi gelap manusia, sekalipun dengan alam pikir surealisme yang dingin. Membaca cerita-cerita di Rumah Kedua Ibu membuat saya menyadari betapa asingnya (kadang kala) seorang manusia terhadap 'rumah'-nya sendiri." (Angelina Enny, Penulis)
"Sebagaimana teater, kumpulan cerpen ini penuh dengan suprise, mendadak mencengangkan sekaligus ngeri dalam dada. Tokoh-tokohnya hidup dalam suspense imaji kehidupan yg liar, dingin, buas, seringkali seksi, dan tentu saja: tragis. Yg menarik adalah Udi menulis pengalaman perempuan-perempuan --pelacur, orang gila, penari, kekasih, ibu, anak, penjaga losmen-- ini dengan gamblang, lugas, dan tegas: bahwa kisah gelap dan berlubang adalah juga milik perempuan, yang dengan pilihannya sendiri telah dilalui dan dilampaui sekaligus." (Luna Kharisma, Sutradara Teater)




