1. Dilema Perempuan Adat
*Penulis kolektif | Editor: Eling Wening Pangestu & Muhammad Haikal | 140 hlm | Rp85.000*
- Ditulis oleh lebih dari 20 penulis, mencerminkan keragaman perspektif.
- Fokus pada perempuan adat di Indonesia yang berperan menjaga budaya dan kearifan lokal.
- Tantangan utama: marginalisasi dalam hak dasar, partisipasi politik, dan pengambilan keputusan komunal.
- Buku ini menyoroti benturan antara tradisi lokal dan modernisasi, serta dampaknya terhadap kehidupan perempuan adat.
- Membahas isu sosial, ekonomi, dan ketidaksetaraan gender yang sering diabaikan.
- Tujuan: meningkatkan kesadaran publik, mendorong dukungan, dan memperkuat suara perempuan adat agar keberlanjutan budaya terjamin.
2. Ketika Perempuan Milenial Melawan Pernikahan
*Penulis: Nabila B. Nayyirah | 115 hlm | Rp58.000*
- Membahas fenomena perempuan milenial Indonesia yang menolak menjadikan pernikahan sebagai kewajiban sosial atau agama.
- Pernikahan dipandang sebagai pilihan, bukan keharusan.
- Perempuan milenial lebih menekankan kemandirian finansial dan emosional, serta pengembangan karier.
- Buku ini menyoroti bagaimana norma tradisional dianggap usang, dan bagaimana perempuan mendefinisikan kebahagiaan serta kesuksesan secara mandiri.
- Menegaskan kedaulatan individu atas tubuh dan kehidupan pribadi sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan sosial.
3. Melawan Bahasa Patriarki
*Penulis: Ni Putu Sri Pratiwi | 100 hlm | Rp50.000*
- Menyoroti bias gender dalam bahasa sebagai medium komunikasi.
- Mengacu pada pemikiran Luce Irigaray, tokoh feminisme posmodern yang menekankan kritik terhadap bahasa dan teks.
- Bahasa dianggap tidak netral, melainkan sarat dengan struktur patriarki.
- Buku ini mengajak pembaca untuk menyadari ketidakadilan dalam bahasa dan mencari cara untuk membongkar bias tersebut.
- Fokus pada ranah teks dan komunikasi, berbeda dari feminisme klasik yang lebih menekankan politik atau ekonomi.